Skip ke Konten

BKI Goes to School Dorong Pemetaan Karier Hijau dan Penguatan Green Skills bagi Santri di Kota Parepare

23 September 2026 oleh
BKI Goes to School Dorong Pemetaan Karier Hijau dan Penguatan Green Skills bagi Santri di Kota Parepare
Admin Fuad
| Belum ada komentar

Fuad Parepare — Himpunan mahasiswa prodi Bimbingan Konseling Islam (BKI) melaksanakan kegiatan BKI Goes to School: Pemetaan Minat, Bakat dan Bimbingan Karier di sejumlah pesantren di Kota Parepare (19-21/09/2026). Kegiatan tersebut menyasar santri dan santriwati sebagai bagian dari upaya memperkuat kesiapan generasi muda dalam mengenali potensi diri, menentukan arah pendidikan, serta mengeksplorasi pilihan karier yang relevan dengan kebutuhan masa depan.

Kegiatan dilaksanakan di Pesantren Al Baddar, Pesantren Zubratul Azrar (ZANU), dan Pesantren DDI Ujung Lare Parepare. Rangkaian kegiatan mencakup edukasi mengenai perencanaan karier, eksplorasi minat, pengisian instrumen Rothwell-Miller Interest Blank (RMIB), analisis hasil pemetaan, serta bimbingan dan konseling karier.

Dalam materi pelatihan, peserta diajak untuk memahami bahwa pemilihan karier tidak semestinya hanya didasarkan pada pilihan teman, dorongan orang tua, tren pekerjaan, atau pertimbangan bahwa suatu jurusan sedang populer. Peserta diarahkan untuk terlebih dahulu mengenali minat dan potensi diri sebagai dasar dalam menentukan arah pengembangan diri.

Materi juga menekankan bahwa eksplorasi minat bukan bertujuan menentukan seseorang “harus menjadi apa”, melainkan membantu peserta menemukan arah perkembangan yang sesuai dengan dirinya.

Dari Pemetaan Minat Menuju Green Career

Ketua Himpunan mahasiswa BKI, Fatir, mengatakan bahwa kegiatan tersebut tidak hanya diarahkan untuk membantu peserta mengenali minat karier, tetapi juga menjadi langkah awal dalam mengembangkan pendekatan Green Career Mapping, yaitu pemetaan karier yang menghubungkan potensi individu dengan perkembangan dunia kerja dan kebutuhan keberlanjutan.

“Kami ingin peserta tidak hanya mengetahui apa yang mereka minati, tetapi juga mulai memahami ke mana potensi tersebut dapat dikembangkan dan bagaimana pilihan pendidikan serta karier mereka nantinya dapat memberikan kontribusi bagi masyarakat dan lingkungan. Karena itu, pemetaan minat dan konseling karier ini kami arahkan menjadi bagian dari pengembangan Green Career Mapping dan penguatan green skills bagi generasi muda,” ujar Fatir.

Menurutnya, pengenalan karier sejak usia sekolah penting agar peserta memiliki kesempatan untuk mengeksplorasi berbagai pilihan secara lebih sadar. Pendekatan tersebut juga mendorong peserta untuk tidak sekadar mengikuti pilihan orang lain, tetapi mempertimbangkan kesesuaian antara minat, potensi, keterampilan, dan perkembangan kebutuhan dunia kerja.

Gagasan tersebut sejalan dengan materi pelatihan yang menempatkan pengenalan minat sebagai langkah awal untuk menentukan arah pendidikan, keterampilan, maupun pilihan karier yang akan dieksplorasi.

Green Skills sebagai Bekal Generasi Masa Depan

Dosen IAIN Parepare, Ulfa, M.Pd., yang terlibat sebagai pelatih dalam kegiatan tersebut, menjelaskan bahwa pendidikan karier perlu dikembangkan mengikuti perubahan kebutuhan dunia kerja. Menurutnya, peserta didik tidak cukup hanya mengetahui pilihan profesi, tetapi juga perlu memahami kompetensi yang harus dikembangkan untuk menghadapi masa depan.

“Pendidikan karier tidak berhenti pada pertanyaan tentang ingin menjadi apa. Peserta perlu dibantu mengenali dirinya, memahami perubahan dunia kerja, kemudian mengidentifikasi keterampilan yang perlu dikembangkan. Dalam konteks keberlanjutan, green skills menjadi salah satu aspek yang penting untuk mulai diperkenalkan sejak pendidikan menengah,” jelas Ulfa.

Ia menambahkan bahwa pemetaan minat dapat menjadi pintu masuk bagi peserta untuk mengeksplorasi berbagai bidang pendidikan dan pekerjaan yang berkembang, termasuk bidang-bidang yang berkaitan dengan keberlanjutan, lingkungan, teknologi, layanan sosial, kewirausahaan, komunikasi, maupun bidang lainnya.

Menurutnya, pendekatan tersebut tetap menempatkan peserta sebagai pengambil keputusan atas masa depannya.

“Hasil pemetaan bukan untuk menentukan bahwa seorang santri harus memilih profesi tertentu. Hasilnya menjadi bahan refleksi dan konseling agar mereka dapat memahami potensi dirinya, mengeksplorasi berbagai kemungkinan, dan menyusun langkah pengembangan diri secara lebih sadar,” tambahnya.

Menggunakan Pemetaan Minat sebagai Dasar Eksplorasi Karier

Dalam kegiatan tersebut, peserta diperkenalkan dengan Rothwell-Miller Interest Blank (RMIB) sebagai instrumen untuk melihat kecenderungan minat terhadap berbagai kelompok pekerjaan. Materi pelatihan memperkenalkan 12 kelompok minat, antara lain Outdoor, Mechanical, Computational, Scientific, Personal Contact, Aesthetic, Literary, Musical, Social Service, Clerical, Practical, dan Medical.

Pemetaan tersebut kemudian dilanjutkan dengan proses bimbingan dan konseling karier. Pendekatan ini dimaksudkan agar peserta tidak berhenti pada hasil tes, tetapi memperoleh kesempatan untuk memahami hasil pemetaan dan menghubungkannya dengan pilihan pendidikan, keterampilan, serta arah karier yang ingin dikembangkan.

Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang praktik bagi mahasiswa BKI untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan bimbingan konseling dalam konteks pendidikan masyarakat.

Menjadi Pilot Pengembangan Green Career Mapping

Kegiatan BKI Goes to School yang telah dilaksanakan pada tiga pesantren tersebut menjadi pengalaman awal yang penting bagi pengembangan model Green Career Mapping di lingkungan pendidikan pesantren dan madrasah.

Melalui pengembangan model tersebut, pemetaan minat dan konseling karier diarahkan untuk berkembang menjadi proses yang lebih komprehensif, mulai dari pengenalan diri, pemetaan minat, eksplorasi pilihan karier, pengenalan green skills, konseling karier, hingga penyusunan rencana pengembangan diri.

Ke depan, model ini diharapkan dapat dikembangkan menjadi pendekatan pendidikan karier yang dapat diterapkan pada lebih banyak sekolah, madrasah, dan pesantren di Kota Parepare maupun wilayah lainnya.

Bagi komunitas mahasiswa BKI, kegiatan ini tidak hanya menjadi bentuk pengabdian dan pembelajaran lapangan, tetapi juga menjadi ruang untuk mengembangkan inovasi pendidikan yang menghubungkan potensi generasi muda, kesiapan karier, keterampilan masa depan, dan agenda keberlanjutan.

“Kenali minatmu, maksimalkan potensimu, temukan arahmu.”

Pesan tersebut menjadi bagian penting dari pendekatan kegiatan, bahwa masa depan peserta tidak ditentukan semata oleh tren atau pilihan orang lain, tetapi dibangun melalui proses mengenali diri, memperoleh informasi, mengeksplorasi pilihan, dan merencanakan langkah pengembangan diri.

di dalam Berita Fuad
Masuk untuk meninggalkan komentar