Fuad IAIN Parepare – Asosiasi Program Studi Sejarah Islam se-Indonesia (APSII) resmi mengukuhkan jajaran pengurus periode 2026–2028 melalui kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui _Zoom_, Jumat (11/9/2026). Kegiatan tersebut dihadiri oleh perwakilan Program Studi Sejarah Islam dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Pengukuhan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat konsolidasi kelembagaan sekaligus membangun komitmen bersama dalam menghadapi dinamika pendidikan tinggi dan perkembangan ilmu sejarah Islam di Indonesia.
Prosesi pengukuhan dipimpin oleh Ketua Asosiasi Dosen Ilmu-ilmu Adab (ADIA), Prof. M. Faisol. Dalam kegiatan tersebut, Sekretaris ADIA, Zubair, membacakan keputusan pengukuhan pengurus APSII periode 2026–2028. Pengukuhan ini tidak sekadar menjadi agenda administratif organisasi, tetapi diharapkan menjadi titik awal bagi lahirnya berbagai program strategis yang mampu memperkuat eksistensi Program Studi Sejarah Islam di tengah perubahan lingkungan akademik, sosial, teknologi, dan kebutuhan dunia kerja.
Dalam sambutannya, Ketua APSII, Zakiya Darajat, menegaskan pentingnya sinergi antardosen dan Program Studi Sejarah Islam di seluruh Indonesia. Menurutnya, APSII harus mampu menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat melalui penguatan pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta pengembangan keilmuan sejarah Islam. Ia mengajak seluruh anggota untuk menjadikan APSII sebagai ruang bersama dalam membangun komunikasi, berbagi pengalaman, dan merumuskan strategi pengembangan Program Studi Sejarah Islam ke depan.
Zakiya juga mengingatkan agar Program Studi Sejarah Islam tidak tergerus oleh perubahan zaman. Karena itu, penguatan sumber daya manusia menjadi salah satu agenda utama yang harus mendapatkan perhatian serius. Dosen dan pengelola program studi perlu saling membantu, membangun jejaring, serta memperkuat kapasitas akademik agar sejarah Islam tetap memiliki posisi strategis dalam kehidupan intelektual dan sosial masyarakat. “Kita harus mampu beradaptasi dan berinovasi dengan berbagai perubahan dan tantangan yang ada, sehingga kita dapat menghadirkan Program Studi Sejarah Islam yang relevan dan diminati generasi muda,” tegasnya.
Lebih lanjut, Ketua APSII mendorong pengurus untuk memperkuat kolaborasi dalam berbagai bidang, terutama penelitian bersama, pengembangan kurikulum, laboratorium budaya, publikasi ilmiah, serta kegiatan akademik lainnya. Kolaborasi juga perlu dibangun dengan disiplin ilmu lain karena sejarah tidak berdiri sendiri. Interaksi dengan ilmu sosial, humaniora, teknologi, budaya, pariwisata, dan bidang keilmuan lainnya dinilai penting agar kajian sejarah Islam mampu menjawab persoalan kontemporer. “Mari kita perkuat APSII karena APSII adalah rumah kita,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua ADIA, Prof. M. Faisol, dalam sambutannya menyampaikan ucapan selamat atas pengukuhan pengurus APSII periode 2026–2028. Ia menekankan pentingnya melakukan refleksi dan memikirkan kembali kurikulum Program Studi Sejarah Islam agar senantiasa relevan dengan perkembangan zaman. Kemajuan teknologi digital menjadi salah satu faktor yang tidak dapat diabaikan dalam pengembangan pendidikan sejarah. Ia berharap APSII mampu merumuskan langkah-langkah strategis yang dapat memperkuat kontribusi ilmu-ilmu humaniora bagi kemajuan umat dan masyarakat.
Pesan strategis juga disampaikan oleh Irjen Kebudayaan, Restu Gunawan, yang menyoroti pentingnya penguatan profesi dan kompetensi lulusan sejarah. Menurutnya, Program Studi Sejarah perlu mampu bersaing dengan program studi lain dengan memperjelas dan memperkuat ruang profesi bagi para lulusannya, salah satunya melalui sertifikasi kompetensi. Lulusan sejarah memiliki peluang di berbagai bidang, antara lain museum, kepemanduan wisata, kebudayaan, pelestarian warisan budaya, hingga sektor-sektor lain yang membutuhkan kompetensi sejarah dan kebudayaan. Sertifikasi profesi dinilai dapat menjadi keunggulan tersendiri bagi alumni sekaligus memperkuat posisi lulusan sejarah di dunia kerja. Hal yang sama juga perlu menjadi perhatian bagi para dosen sejarah dalam meningkatkan profesionalisme dan kompetensinya.
Pengukuhan pengurus APSII periode 2026–2028 diharapkan menjadi momentum kebangkitan bersama Program Studi Sejarah Islam di Indonesia. Tantangan digitalisasi, perubahan kebutuhan generasi muda, tuntutan dunia kerja, serta perkembangan ilmu pengetahuan menuntut adanya keberanian untuk berbenah dan melakukan inovasi. Dengan memperkuat sinergi antarpengurus, dosen, program studi, perguruan tinggi, pemerintah, dan berbagai mitra strategis, APSII diharapkan mampu menjadi wadah kolaborasi yang melahirkan gagasan, penelitian, kurikulum, dan program pengembangan profesi yang berkelanjutan. APSII bukan sekadar asosiasi, tetapi rumah bersama untuk menjaga keberlanjutan, memperkuat eksistensi, dan memastikan masa depan Sejarah Islam tetap relevan bagi generasi mendatang.
Penulis: Saidin Hamzah
Editor: Mifda Hilmiyah
Kaprodi SPI di Kukuhkan jadi Pengurus APSII 2026–2028, Perkuat Sinergi Program Studi Sejarah Islam