FUAD IAIN Parepare – Fenomena masyarakat modern yang semakin terkoneksi melalui teknologi digital namun mengalami keterasingan secara moral menjadi sorotan utama dalam Seminar Kebudayaan yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Sejarah Peradaban Islam (SPI) Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah IAIN Parepare. Kegiatan bertema “Reaktualisasi Nilai-Nilai Budaya Lokal sebagai Strategi Menghadapi Krisis Moral di Era Disrupsi” tersebut berlangsung di Ballroom Laboratorium Terpadu IAIN Parepare, Jumat (12/6/2026).
Dalam pemaparannya, Musyarif, mengulas secara kritis fenomena yang ia sebut sebagai paradoks era digital, yakni kondisi ketika manusia semakin mudah terhubung melalui perangkat teknologi, media sosial, dan jaringan komunikasi global, tetapi pada saat yang sama mengalami kemunduran dalam relasi sosial, empati, serta tanggung jawab moral. Menurutnya, kemajuan teknologi tidak selalu berbanding lurus dengan kemajuan karakter manusia.
“Di era digital, jarak geografis seakan lenyap. Informasi dapat diakses dalam hitungan detik dan komunikasi dapat dilakukan tanpa batas ruang dan waktu. Namun, di balik kemudahan itu, muncul gejala keterasingan moral yang ditandai dengan melemahnya kepedulian sosial, rendahnya etika komunikasi, serta krisis integritas dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya di hadapan peserta seminar.
Musyarif menjelaskan bahwa paradoks tersebut lahir dari dua faktor utama, yaitu keterbukaan informasi yang begitu masif dan konektivitas tanpa batas yang sulit dikendalikan. Arus informasi yang bergerak sangat cepat sering kali membuat masyarakat kehilangan kemampuan untuk menyaring nilai dan makna. Akibatnya, berbagai konten yang tidak selaras dengan nilai budaya dan moral dapat dengan mudah memengaruhi pola pikir serta perilaku generasi muda.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa konektivitas digital yang tanpa batas juga berpotensi mengikis karakter individu. Interaksi yang sebelumnya dibangun melalui kedekatan sosial dan nilai-nilai kekeluargaan perlahan tergantikan oleh hubungan virtual. Kondisi ini, menurutnya, menciptakan krisis integritas di ruang nyata, ketika seseorang tampak baik di ruang digital tetapi gagal menerapkan nilai yang sama dalam kehidupan sosialnya.
“Teknologi pada dasarnya bersifat netral. Yang menentukan arah pemanfaatannya adalah manusia. Ketika teknologi tidak dibarengi dengan fondasi moral yang kuat, maka yang lahir bukan kemajuan peradaban, melainkan krisis kemanusiaan yang semakin kompleks,” tegasnya.
Di tengah tantangan tersebut, Musyarif menempatkan kearifan lokal sebagai benteng moral aktif yang mampu menjadi penyeimbang arus modernisasi. Nilai-nilai budaya yang diwariskan oleh para leluhur, seperti gotong royong, rasa malu, penghormatan kepada orang tua, solidaritas sosial, dan tanggung jawab kolektif, dinilai masih relevan untuk menjawab berbagai persoalan moral yang muncul di era digital.
Menurutnya, kearifan lokal tidak boleh dipahami sekadar sebagai warisan masa lalu yang bersifat simbolik. Lebih dari itu, nilai-nilai budaya harus direaktualisasikan menjadi pedoman hidup yang mampu membentuk karakter masyarakat. Dengan demikian, budaya lokal tidak hanya berfungsi sebagai identitas sosial, tetapi juga sebagai instrumen pendidikan moral yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
Ia juga mengingatkan bahwa upaya menghadapi krisis moral tidak cukup hanya melalui regulasi atau penguasaan teknologi. Yang dibutuhkan adalah penguatan kesadaran budaya yang berkelanjutan melalui keluarga, lembaga pendidikan, komunitas, dan ruang-ruang sosial lainnya. Sinergi tersebut penting agar generasi muda tidak kehilangan akar identitas di tengah derasnya arus globalisasi dan digitalisasi.
Seminar Kebudayaan ini menjadi ruang refleksi bagi mahasiswa dan peserta untuk memahami bahwa tantangan terbesar era disrupsi bukanlah perkembangan teknologi itu sendiri, melainkan kemampuan manusia menjaga nilai-nilai moral di tengah perubahan yang begitu cepat. Melalui penguatan kearifan lokal, masyarakat diharapkan mampu memanfaatkan teknologi sebagai sarana kemajuan tanpa kehilangan jati diri, etika, dan karakter kebangsaan.
Penulis: Saidin Hamzah
Editor: Mifda Hilmiyah
Musyarif Kupas Tuntas Paradoks Era Digital: Terhubung Secara Teknologi, Terasing Secara Moral