Fuad IAIN Parepare - Setiap tanggal 22 Oktober, bangsa ini memperingati Hari Santri Nasional sebagai penghormatan atas jasa para santri dalam merebut dan menjaga kemerdekaan. Tetapi di balik semarak seremoni, ada pertanyaan besar yang jarang kita jujur menjawabnya: bagaimana sebenarnya kondisi jiwa para santri kita hari ini? Santri hidup jauh dari orangtua, menanggung tekanan menghafal dan disiplin ketat, serta cemas soal masa depan. Kecemasan, stres, bahkan depresi bukan hal asing di pondok. Namun di banyak pesantren, penderitaan jiwa masih dipahami sebagai soal rohani semata — kurang tawadhu, kurang istiqamah — sehingga santri yang murung justru dibebani ibadah lebih alih-alih ditolong. Padahal jauh sebelum psikologi lahir, al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin telah menggambarkan jiwa manusia seperti cermin: ia memantulkan cahaya ilahi ketika bersih, dan memantulkan penderitaan ketika keruh karena luka batin yang tak diobati.
Di sinilah kita harus mendudukkan kembali peran guru yang sebenarnya. Dalam tradisi pesantren, guru sejak awal bukan sekadar penyampai pelajaran. Ia adalah mu'addib yang membentuk adab, murabbi yang mengasuh pertumbuhan, dan pembimbing perjalanan batin santrinya. Psikologi modern membenarkan kearifan itu. Menurut teori keterikatan John Bowlby, anak membangun "basis aman" dari figur pengasuh yang konsisten dan penuh kasih — dan bagi santri yang merantau, guru mengambil peran figur pengasuh tersebut. Gagasan Abraham Maslow pun relevan: santri tidak bisa mencapai aktualisasi diri bila kebutuhan dasar — rasa aman, diterima, dan dihargai — belum terpenuhi. Guru-lah yang paling dekat dengan santri dari pagi hingga malam, yang paling cepat merasakan jika wajah yang biasa ceria berubah murung, yang berdiri paling depan ketika krisis jiwa terjadi. Karena itu, guru perlu dibekali sesuai peran itu: menciptakan lingkungan yang aman dan adil, mengenali tanda distress sejak dini, mendengarkan dengan empati tanpa menghakimi, dan membangun ketahanan jiwa lewat pembinaan adab dan ibadah. Di sinilah Carl Rogers menawarkan jembatan antara tasawuf dan psikoterapi: pendekatan unconditional positive regard — menerima murid apa adanya tanpa syarat — sesungguhnya cermin dari sifat Allah yang al-Wadud, dan guru yang tidak mempermalukan santri di depan umum, tidak membanding-bandingkan, serta menegakkan aturan tanpa kekerasan sedang menjadi benteng pertama kesehatan jiwa.
Namun peran guru yang sebenarnya juga menuntut kejujuran tentang batasnya. Erich Fromm dalam Escape from Freedom membedakan dua macam otoritas: otoritas rasional, yang berdasarkan kompetensi dan dilepaskan begitu murid matang, dan otoritas irasional, yang bertahan dengan rasa takut. Pendidikan yang sehat menuntut guru menjadi yang pertama, bukan yang kedua. Guru juga bukan psikolog, dan tidak boleh berpura-pura menjadi terapis. Ketika menemukan santri dalam risiko serius — depresi berat, menyakiti diri, putus asa — tugas guru adalah mencegah, merujuk ke ahli, dan tetap mendampingi, bukan mendiagnosis atau menyerahkan segalanya pada "rukyah" semata. Merangkul layanan psikologi bukan pelemahan pesantren; justru kiai dan ustadz yang berani berkata "persoalan ini perlu pakar" adalah guru yang dewasa. Iman tetap menjadi kekuatan jiwa yang luar biasa — Viktor Frankl dalam Man's Search for Meaning membuktikan bahwa makna adalah penahan terakhir manusia di tengah penderitaan, dan iman adalah sumber makna yang paling dalam. Tetapi iman bukan pengganti penanganan profesional, sama seperti iman tidak menghapus kebutuhan obat ketika jasmani sakit.
Ada satu lagi peran yang sering dilupakan: guru sebagai teladan. Kesehatan jiwa santri pada akhirnya dimulai dari kesehatan jiwa guru sendiri. Santri meniru lebih dari apa yang diajarkan; konsep modeling Albert Bandura menjelaskan bahwa pembelajaran paling kuat terjadi lewat pengamatan terhadap figur yang dikagumi. Guru yang mengelola amarahnya, sabar menghadapi kekurangan murid, dan menjaga ketenangan batinnya sedang mengajarkan pelajaran terpenting yang tak tertulis di kitab mana pun.
Hari Santri yang sesungguhnya bukan dirayakan dengan upacara, tetapi dengan kepedulian nyata pada jiwa santrinya. Mendudukkan peran guru yang sebenarnya artinya mengembalikan ia sebagai pembimbing jiwa yang utuh: menciptakan lingkungan aman, mendeteksi krisis sedini mungkin, mendengarkan dan mendampingi, membangun ketahanan batin, berani merujuk ke ahli, dan menjadi teladan. Pesan paling menepati tradisi pesantren sekaligus menjawab tuntutan zaman: pesantren berhasil bukan jika meluluskan santri dengan hafalan terbanyak, melainkan jika meluluskan manusia utuh — kuat ilmunya, kokoh imannya, dan sehat jiwanya. Sebab pada hakikatnya, santri yang sehat jiwa-lah yang kelak sanggup menjaga negara ini; sebagaimana dulu.
Hari Santri: Merefleksikan Peran Guru bagi Kesehatan Jiwa