Humas IAIN Parepare – Bagi sebagian orang, puisi adalah pelarian. Bagi Luthfiyani Mansur, seorang mahasiswa Program Studi Jurnalistik Islam, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Parepare, puisi adalah jembatan untuk berkomunikasi dengan dunia. Berangkat dari kebiasaan menulis keresahan di buku catatan dan aplikasi notes ponsel, ia berhasil menyabet gelar Juara 2 Kategori Lomba Puisi dalam ajang Lomba Seni Sastra Indonesia yang diselenggarakan oleh Penerbit Aksara Pilar Nusantara, Selasa (03/03/2026)
Lomba yang mengusung tema bebas tersebut menjadi panggung pembuktian bagi sang mahasiswa yang mengaku selama ini lebih nyaman "berbicara" lewat kata-kata ketimbang lisan.
Dalam kompetisi tersebut, ia membawakan karya berjudul "Barangkali Lupa". Sebuah puisi kontemplatif yang membedah kefanaan hidup. Inspirasi utamanya datang dari kalimat _Innalillahi wa inna ilaihi raji'un,_ yang kemudian ia turunkan menjadi tiga fase mutlak manusia: lahir-hidup-mati, lapar-kenyang-mati, hingga bertemu-mencinta-lalu mati.
"Saya cukup senang menggunakan simbol-simbol islami untuk memperindah dan memperdalam puisi, mungkin karena latar belakang pendidikan pondok pesantren selama tiga tahun," ujarnya saat diwawancarai.
Sebagai mahasiswa Jurnalistik Islam, ia harus lihai menyeimbangkan dua dunia yang berbeda kutub: fakta jurnalistik yang kaku dan metafora puisi yang lentur. Ia menyebutnya sebagai upaya membedakan "mode reporter" dan "mode penyair".
Meski tekniknya berbeda, ia menemukan satu benang merah yang menyatukan keduanya. "Menulis puisi dan berita tetap membutuhkan satu hal yang sama, yaitu kepekaan seorang penulis," katanya. Kemenangan ini sekaligus memecahkan rekor pribadinya, mengingat ini adalah kali pertama ia memberanikan diri mengirimkan karya ke tingkat nasional setelah bertahun-tahun hanya menyimpannya secara rapi di ruang privat.
Prestasi ini tidak lepas dari ekosistem di prodi Jurnalistik Islam yang suportif. Ia menceritakan bagaimana kakak tingkat dan rekan sesama pencinta literasi terus mendorongnya untuk keluar dari zona nyaman.
"Dulu saya merasa belum sanggup. Tapi dukungan teman-teman membuat saya semakin bersemangat berkarya," ucapnya. Rasa bahagia pun membuncah saat pengumuman tiba, apalagi ia juga meraih hasil memuaskan di beberapa perlombaan daring lainnya secara bersamaan.
Kemenangan ini hanyalah awal. Ke depan, ia berencana membukukan kumpulan puisi yang telah ia tabung selama bertahun-tahun serta menyelesaikan naskah novel yang sedang digarapnya.
Bagi rekan mahasiswa lain yang ingin memulai, ia memberikan tips sederhana namun fundamental. "Tiada saran yang lebih baik untuk menulis selain banyak-banyak membaca dan lebih peka terhadap suasana di sekitar," tutur anak kedua ini dari 4 bersaudara menutup percakapan.
Selain menjadi juara 2 lomba tulis puisi seni sastra Indonesia, Luthfiyani Mansur anak dari ibu Satriani ini menjadi salah satu penulis terpilih dalam event lomba puisi batch 13 volume 3 dari Halo Penyair.
Penulis: Faizal Lutfi
Editor: Mifda Hilmiyah
Berawal dari Catatan di Ponsel, Mahasiswa Jurnalistik Islam Raih Juara 2 Lomba Puisi Nasional