Page Nav

HIDE

Classic Header

{fbt_classic_header}

Breaking News:

latest

Opini: Pandemi, Ramadan dan Tradisi Ritual yang Dirindukan

Penulis: Mahyuddin, M.A (Dosen Sosiologi Agama ) Marhaban ya Ramadan. Kurang lebih sepekan lagi, kalimat ini akan segera dikumandangk...

Penulis: Mahyuddin, M.A (Dosen Sosiologi Agama)

Marhaban ya Ramadan. Kurang lebih sepekan lagi, kalimat ini akan segera dikumandangkan oleh segenap umat Islam menyambut datangnya bulan Ramadan tahun ini. Spirit kegembiraan tersebut akan menggema di seluruh pelosok negeri meskipun kita semua tahu bahwa bulan suci Ramadan kali ini bakal tidak sesemerbak tahun-tahun sebelumnya.

Bulan penuh pengampunan dan segala peribadatan dilipatgandakan ini hadir bersamaan dengan mewabahnya pandemi Corona. Hal ini tentu sangat berdampak terhadap kebiasaan dan ritual ibadah kita setelah ada pembatasan sosial dalam segala hal. Ini juga sangat berseberangan dengan kebiasaan-kebiasaan masyarakat dalam menjalankan ibadah puasa di mana beribadah di masjid dan beraktivitas di luar rumah dengan segala fleksibilitas hubungan sosialnya seperti pertemuan-pertemuan sembari rehat setelah shalat tarawih atau menunggu waktu berbuka bahkan sekadar berbelanja untuk keperluan buka puasa dan sahur, sangat kental dan sentral.

Di masa pandemi ini, tradisi dan ritual di atas yang telah membudaya dan mengakar di masyarakat, sedikit banyak akan terpengaruh. Betapa tidak, mungkin hampir sebagian besar waktu kita akan dihabiskan beraktivitas dan mengurung diri di rumah (stay at home) demi menghindari bahaya virus Corona. Tidak hanya beribadah di rumah, melainkan juga bekerja dari rumah.

Tak Seindah Dulu dan Sekarang

Di setiap bulan ramadan, satu hal yang menjadi pencirinya adalah masjid-masjid ramai mengadakan taklim, melaksanakan tarawih berjamaah, dan mengagendakan buka puasa bersama. Pun di luar rumah, di sore hari akan ramai pasar-pasar. Setiap kita akan disuguhkan dengan berbagai ragam menu buka puasa untuk menghilangkan dahaga setelah seharian menahan makan dan minum. 

Namun, kita tidak pernah menyangka kalau puasa tahun ini merupakan puncak-puncak penyebaran virus. Sehingga ritual ibadah dan buka puasa bersama di masjid-masjid ditiadakan, pasar-pasar yang menyediakan aneka makanan buka dan sahur tidak lagi ramai dikunjungi. Tak ada lagi acara buka bersama, ngabuburit atau pun sahur on the road.

Inilah sebagian dari kebiasaan-kebiasaan kita yang dirindukan. Ramadan kali ini boleh dikata tak seindah hari-hari kemarin. Adzan dikumandangkan di masjid sekadar mengingatkan telah tiba waktu salat dan berbuka. Kita tidak lagi diijinkan mencicipi nikmatnya dan lezatnya ibadah berjamaah di sana. Kita tidak lagi dianjurkan bersedekah makanan di sana untuk buka bersama. Masjid tak lebih hanyalah sarana untuk mengingatkan kita waktu-waktu ibadah.

Tidak hanya itu, barangkali di tahun ini kita juga tidak akan menikmati indahnya mudik balik ke kampung halaman, indahnya mudik bertemu sanak saudara. Pun jika kita kukuh tetap berkunjung ke kampung halaman menjelang lebaran, bersiaplah melewati penjagaan-penjagaan ketat. Apalagi yang datang dari Tanah rantau antar pulau dan lintas negara, bersiaplah untuk dikarantina atau isolasi mandiri selama 14 hari. Itu sudah menjadi protokoler keselamatan kita saat ini.

Jika masa pandemi ini tidak ada tanda-tanda segera berlalu. Mungkin situasi ini akan sampai pada puncak Idul Fitri, hari raya kemenangan kita. Tapi di sana, kemenangan tinggallah kemenangan. Kegembiraan tinggallah kegembiraan. Mengapa? Sebab silaturrahmi kita dengan yang lain bakal terbatas. Tiada salam-salaman, tiada lagi kunjung mengunjungi. Titik ekstremnya tidak ada perjalanan ke Baitullah (ritual ibadah haji) di bulan Ramadhan dan setelahnya di masa-masa ini.

Saatnya Introspeksi Diri

Jika kita hubungkan fenomena ini dengan realitas teologis, saya kira pikiran kita tidak cukup hanya menyalahkan pandemi Corona. Mau tidak mau kita harus bertanya pada diri sendiri. Apakah ada gerangan kesalahan-kesalahan kita selama ini. Sebagai manusia beriman, atau masyarakat beragama kita memang harus selalu mengintrospeksi diri. Atau dalam suatu rumus sederhananya kita selalu memulai bertanya. Bisa jadi bencana pandemi ini adalah bentuk teguran Tuhan terhadap kita. 

Bila merunut terbengkalainya tradisi ritual di atas, sepertinya nasihat salah satu ustad yang tidak disebutkan namanya tetapi viral di lini masa, dapat menjadi pengingat bagi kita. Di dalam sebuah video berdurasi 2 menit 54 detik, seorang penceramah di kelilingi para santrinya memberikan nasihat kepada kita yang sungguh luar biasa, yang jika direnungi, hati kita akan bergetar karena dalamnya nasihatnya. 

Petuahnya kurang lebih berbunyi seperti ini; “Jangan salahkan corona jika masjid ditutup atau digembokkan. Bermuhasabahlah kita. Mungkin karena sudah teramat sering kita dipanggil-panggil adzan tapi kita tidak mau jamahaan dengan berbagai alasan keduniawian. Jangan salahkan corona jika jumatan ditiadakan. Bermuhasabalah kita. Mungkin karena setiap hadir jumatan kita hanya ketiduran dan ketiduran, nasehat khutbah diabaikan.”

“Jangan salahkan corona jika pengajian-pengajian ditiadakan. Bermuhasabahlah kita. Mungkin karena ustadz-ustadznya sudah banyak yang mengkomersialisasikan pengajian, dan hidup glamor bak artis biduan, juga jamaahnya hanya untuk foto-fotoan. Jangan salahkan corona jika puasa tahun ini tidak ada jamaah tarawihan. Bermuhasabahlah kita. Mungkin karena kebanyakan dari kita tarawihnya hanyat ikut-ikutan. Buktinya tanggal 20 ke atas, banyak dari kita pula yang ikut-ikutan berhenti tarawihan.”

“Jangan salahkan corona jika lebaran tahun ini tiada mudik dan silaturrahiman. Bermuhasabahlah kita. Mungkin karena kebanyakan dari kita mudik hanya pamer harta dan kesuseksesan. Jangan salahkan corona jika tahun ini tidak ada shalat sunnah idhul fitri jemaahan, karena kita hadirnya hanya untuk memamerkan pakaian. Jangan salahkan corona jika Masjidil Haram ditutup dari ritual keagamaan. Bermuhasabahlah kita. Mungkin karena kebanyakan di sana kita hanya selfian, bukan fokus ibadah Haji dan Umrohan. 

"Jangan salahkan corona jika tahun ini tidak ada ibadah hajian. Bermuhasabahlah kita. Mungkin karena kebanyakan kita sekarang Hajinya hanya cari status dan gelar panggilan. Dari pada benar-benar ingin ibadah menunaikan rukun Islam. Semoga dengan makhluk yang bernama corona yang Allah datangkan menjadi hikmah bagi kita semua untuk sadar.”

Itu nasihatnya yang membuat hati terenyuh jika diresapi dengan penuh penghayatan. Ia mengandung pesan-pesan instrospeksi diri agar di setiap ibadah kita meniatkan ketaatan dengan ikhlas hanya untuk Allah di luar dan dalam bulan Ramadhan. Sehingga tidak sepatutnya ibadah kita terjerembab dalam ambisi-ambisi dunia. 

Dengan demikian, marilah fenomena itu kita lihat berulang-ulang dan kita pertanyakan dari dalam hati sanubari kita. Terlepas bulan Ramadhan tahun ini kembali menyapa kita dalam suasana kerinduan dan kesedihan. Kita patut menyambutnya dengan penuh kegembiraan karena Tuhan masih memberi kesempatan kepada kita, umatnya, untuk membersihkan diri kita. Inilah momentum bagi kita untuk kembali mensucikan diri (fitrah) atas salah dan dosa yang mungkin telah kita perbuat selama setahun terakhir.  Kepada Corona jatuhkanlah penyakit yang tumbuh bersamamu lalu bawa semua kenangan yang kau bekaskan. Kami ingin segera menyapa bulan Ramadhan.

Parepare, 17 April 2020
(Tulisan telah dimuat di Harian Parepos edisi Jumat 17 April 2020)

1 komentar

Kantor