Page Nav

HIDE

Classic Header

{fbt_classic_header}

Breaking News:

latest

Opini: Pribadi Resilien di Tengah Pandemi Covid-19

Penulis: Nur Afiah, M.A (Dosen Bimbingan Konseling Islam IAIN Parepare) COVID-19 telah menjadi permasalahan kesehatan terbesar di sel...

Penulis: Nur Afiah, M.A (Dosen Bimbingan Konseling Islam IAIN Parepare)

COVID-19 telah menjadi permasalahan kesehatan terbesar di seluruh dunia saat ini. Tanpa keterbatasan usia, jenis kelamin, dan status sosial lainnya, pun memiliki potensi  yang sama untuk terpapar. Kebanyakan dari kita merasa rentan untuk terpapar. Menghadapi pandemik COVID-19 memanglah menakutkan. Mengingat virus asal Cina ini sudah masuk ke Indonesia. Informasi per 6 April 2020 tercatat korban yang terpapar COVID-19 sebesar 2.491 orang.      

COVID-19 yang lagi naik daun ini tidak hanya menimbulkan derita fisik, akan tetapi juga derita psikologis. Informasi yang berkembang cukup pesat di beberapa media terkait COVID-19 berkorelasi positif dengan tingkat stres setiap individu. Hasil survey yang penulis lakukan baru-baru ini menunjukkan bahwa, hampir seluruh responden melaporkan tingkat stres yang cukup tinggi. belum lagi adanya pengaruh berita di media yang menambah ketakutan tersebut. 
      
Beberapa responden menjelaskan bahwa, COVID-19 ini cukup mencuri perhatian kita semua. Tidak hanya itu, pola kebiasaan kami yang setiap harinya, berubah drastis. Bekerja di kantor menjadi work from home. Kuliah di kelas menjadi kuliah daring. Keterbatasan mahasiswa dalam mengakses internet. Belum lagi para pekerja seperti OJOL yang menggantungkan hidupnya pada interaksi sosial yang berubah menjadi social distancing. 
      
Selain itu, pengaruh COVID-19 pada pola kehidupan kita adalah adanya edukasi untuk menerapkan hidup bersih, rajin mencuci tangan, makan buah dan sayur atau gizi seimbang, tidak melakukan kontak fisik, minum ramuan yang terbuat dari rimpang-rimpangan. Tentu langkah tersebut sebagai bentuk preventif dalam menghadapi COVID-19. Menjaga imunitas tubuh agar tidak mudah terpapar virus tersebut. Akan tetapi, hal yang terkadang luput dari perhatian kita adalah faktor pemberi dalam perkembangan imunitas.
             
Bukan hanya asupan makanan yang bergizi yang dibutuhkan saat ini, akan tetapi asupan kebahagiaan juga perlu ditingkatkan. Menciptakan kondisi bahagia di tengah pandemi ini diperlukan keterampilan adaptasi yang tinggi. Kenapa kita harus bahagia?. Bukannya COVID-19 ini merupakan virus yang meyerang sistem imun kita?. Nah, ketika kita panik, stres, atau depresi sistem imun kita akan menurun. Hal itu akan memberi peluang besar penyakit menyerang tubuh kita. 
      
Terdapat dua kondisi mental yang dapat  memengaruhi sistem imun kita, yaitu keadaan stres dan keadaan bahagia. Stres merusak dan bahagia meningkatkan imunitas kita. Penelitian menyebutkan bahwa kesehatan mental berpengaruh terhadap imunitas tubuh. Ketika individu mengalami stres yang berlebihan, maka akan terjadi perubahan fisiologis tubuh, seperti perubahan kadar hormon. Orang stres, panik, ataupun depresi, maka hormon kortisol dan adrenalin meningkat (kedua hormon tersebut mengatur kondisi stres). Sebaliknya, saat bahagia, maka hormon serotonin dan dopamin yang meningkat (hormon yang mengatur kebahgiaan). Hal inilah yang dapat memengaruhi keseimbangan tubuh kita apabila tidak dapat dikelola dengan baik.
      
Salah satu cara yang dilakukan untuk mengelola diri menjadi pribadi yang bahagia di tengah pandemi COVID-19 ini adalah membentuk pribadi yang tangguh. Mampu bertahan hidup atau tangguh pada situasi yang mengancam, mengurangi setiap problem, dan memberikan motivasi baik pada diri sendiri maupun terhadap orang lain. Kemampuan tersebut disebut sebagai resiliensi yang erat kaitannya dengan kajian positive psychology yang semakin berkembang saat ini. Luthar (2000) menjelaskan bahwa resiliensi merupakan modal psikologis. Artinya bahwa hal tersebut memiliki peranan penting dalam menunjang keberhasilan individu.
      
Terdapat beberapa hasil penelitian sebelumnya yang menjelaskan bahwa resiliensi merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan kualitas hidup seseorang. Seperti, penelitian Yin, Hui-Chen, dan Chan (2013) menunjukkan adanya hubungan positif antara resiliensi dengan kualitas hidup pasien gagal ginjal kronis. Resiliensi mampu mengurangi dampak negatif dari kondisi stres pasien. Jacoby dan Baker (2008) juga menjelaskan bahwa faktor-faktor resiliensi seperti optimis dan afek positif dapat meningkatkan kecenderungan individu untuk bahagia.
      
Kaitan antara resiliensi dengan pandemi COVID-19 adalah sebagai upaya dalam menjaga kesehatan mental kita saat ini. Resiliensi merupakan perilaku yang secara terus menerus mencari ikhtiar ketika dihadapkan pada cobaan hidup. Sistem imun pada kesehatan fisik diibaratkan modal psikologis pada kesehatan mental. Kita harus yakin dan tangguh. Resiliensi menggiring kita untuk memandang bahwa pandemi COVID-19 ini mengajarkan kita untuk lebih banyak mendekatkan diri dengan sang Pencipta, mengajarkan kita untuk kembali menerapkan hidup bersih, stay at home sebagai bentuk quality time with family, dan social distancing untuk mengurangi ghibah. Oleh karena itu, ambil hikmah di balik ujian pandemi ini. 


REFERENSI
Jacoby, A., & Baker, G. 2008 “Quality of life trajectories in epilepsy: A review of the literature” Epilepsy and Behavior, 12, 557-571.

Luthar, S.S. (2000). The Construct of Resilience: A Critical Evaluation and Duidelines for Future Work Child Development. 71(3): 543-562.

Yin, C.S., Hui-Chen, C., & Chan, S. (2013). Perception of quality of life, social wellbeing and resilience in patients with chronic kidney disease. Alice Lee Centre for Nursing Studies, Singapore.

1 komentar

Kantor